Indonesia, dengan kerentanan geografisnya, telah berulang kali menyaksikan bahwa penanganan bencana tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah atau militer. Di balik setiap krisis, muncul kekuatan akar rumput yang menjadi pilar terpenting: komunitas lokal. Peran aktif mereka dalam fase tanggap darurat dan pemulihan adalah wujud nyata dari Solidaritas Nasional yang tidak ternilai. Baru-baru ini, ketika banjir bandang melanda Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 September 2025, puluhan komunitas relawan dan organisasi pemuda lokal menjadi garda terdepan, jauh sebelum bantuan formal dari pusat tiba. Mereka adalah yang pertama memberikan pertolongan, mengevakuasi korban ke tempat aman, dan mendirikan dapur umum darurat.
Inisiatif komunitas memiliki keunggulan kecepatan dan pengetahuan lokal. Petugas dan relawan lokal memiliki pemahaman yang mendalam tentang topografi dan struktur sosial wilayah mereka, memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi jalur evakuasi paling aman dan menjangkau kelompok rentan, seperti lansia dan anak-anak, yang mungkin terisolasi. Dalam kasus banjir Nagekeo, misalnya, Kelompok Siaga Bencana (KSB) Desa Aeramo segera menggerakkan 50 anggotanya. KSB ini, yang telah dilatih secara periodik oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo, berhasil mengevakuasi 120 jiwa dalam 4 jam pertama. Kecepatan ini merupakan bukti keberhasilan program pelatihan mitigasi bencana yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Lebih dari sekadar bantuan fisik, komunitas juga memainkan peran vital dalam menjaga mental dan emosional penyintas. Organisasi non-pemerintah (LSM) dan kelompok mahasiswa seringkali memimpin kegiatan dukungan psikososial, terutama bagi anak-anak di tempat pengungsian. Di Sukabumi dan Bogor, pasca-gempa 21 September 2025, kelompok relawan dari Universitas Pakuan Bogor secara sukarela mengadakan sesi bermain dan terapi seni untuk anak-anak, membantu mereka memproses trauma dan mengurangi kecemasan. Upaya kolektif semacam ini memperkuat Solidaritas Nasional dan mempercepat pemulihan psikologis warga yang terdampak.
Dalam fase rekonstruksi, peran komunitas bertransisi menjadi pengawas dan pelaksana. Mereka memastikan bahwa bantuan dana perbaikan rumah tepat sasaran dan pembangunan kembali menggunakan material yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal. Di tingkat kebijakan, Solidaritas Nasional juga termanifestasi melalui program kemitraan antara pemerintah dan organisasi relawan. BNPB secara rutin mengadakan lokakarya dan simulasi bersama dengan 2.000 lebih organisasi relawan terdaftar setiap tahun, meningkatkan kesiapan kolektif. Dengan mengintegrasikan kekuatan komunitas lokal, yang bertindak sebagai “sensor” dan “responden” pertama, Indonesia dapat membangun sistem ketahanan bencana yang lebih tangguh, efisien, dan manusiawi.