Suasana belajar mengajar di salah satu sekolah dasar di Medan mendadak mencekam ketika seorang pria tak dikenal tiba-tiba masuk dan Mengancam Pakai Sajam kepada guru serta murid-murid. Insiden yang terjadi pada hari Rabu, 21 Mei 2025, siang ini segera ditangani oleh pihak kepolisian, yang berhasil mengamankan pelaku dan meredakan kepanikan. Kejadian ini menjadi peringatan akan pentingnya keamanan di lingkungan sekolah.
Peristiwa ini berlangsung di SD Negeri 050012 Medan Helvetia, sekitar pukul 13.00 WIB, saat jam pelajaran masih berlangsung. Pelaku, yang belakangan diketahui berinisial JS (35), masuk ke area sekolah tanpa izin dan langsung menuju salah satu ruang kelas. Dengan membawa sebilah pisau, ia berteriak-teriak tidak jelas sambil menodongkan senjata tajam ke arah guru dan anak-anak.
Guru kelas, Ibu Siti Rahayu (40), dengan sigap berusaha menenangkan situasi sambil meminta murid-murid untuk berlindung di bawah meja. Sementara itu, salah seorang petugas kebersihan sekolah yang melihat kejadian tersebut, Bapak Rahmat (50), segera melaporkan ke Polsek Medan Helvetia. Tim Reserse Kriminal Polsek Medan Helvetia yang dipimpin oleh Kanit Reskrim AKP Andi Saputra, langsung bergerak cepat menuju lokasi.
Tak sampai 15 menit setelah laporan diterima, polisi tiba di sekolah dan berhasil melumpuhkan JS yang masih terlihat emosional. Mengancam Pakai Sajam di lingkungan pendidikan adalah tindakan yang sangat serius dan tidak dapat ditoleransi. Dari tangan pelaku, petugas menyita pisau dapur yang digunakan untuk mengancam. JS kemudian dibawa ke Mapolsek Medan Helvetia untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kapolsek Medan Helvetia, Kompol Pardamean Hutajulu, menyatakan bahwa motif pelaku masih didalami. “Dugaan awal, pelaku mengalami gangguan kejiwaan atau berada di bawah pengaruh obat-obatan. Kami juga akan memeriksa latar belakang pelaku dan memastikan kondisi kejiwaannya,” tegas Kompol Pardamean Hutajulu dalam keterangannya pada Kamis, 22 Mei 2025. Mengancam Pakai Sajam adalah pelanggaran hukum berat. Pihak sekolah juga telah memberikan konseling kepada murid-murid dan guru yang trauma akibat insiden tersebut. Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk meningkatkan pengawasan keamanan di lingkungan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.