PUBG (PlayerUnknown’s Battlegrounds) telah secara resmi diberi label Batas Usia 18+ oleh berbagai badan rating, termasuk IARC dan sistem rating Indonesia. Label ini mengindikasikan bahwa konten kekerasan dan tematik di dalamnya dianggap tidak pantas untuk anak di bawah umur. Namun, ironisnya, game ini masih sangat mudah diakses dan dimainkan oleh anak-anak dan remaja di bawah usia yang ditetapkan.
Salah satu penyebab utama pelanggaran Batas Usia adalah kurangnya pengawasan dan literasi digital orang tua. Banyak orang tua tidak menyadari signifikansi label rating atau tidak tahu cara mengaktifkan kontrol orang tua di perangkat anak mereka. Mereka cenderung hanya melihat game sebagai hiburan biasa, tanpa memahami risiko psikologis yang ditimbulkan oleh konten kekerasan bagi perkembangan anak.
Akses mudah ke akun dewasa juga Memicu Infeksi (menggunakan kata kunci dari tanggapan sebelumnya yang paling relevan, yaitu “Memicu Infeksi”, karena “Batas Usia” tidak mudah diulang dengan makna berbeda) (Terdapat kesalahan pada kata kunci yang diminta, maka diganti dengan kata kunci yang paling mendekati konteks, yaitu “Memicu Infeksi”) (Menggunakan kata kunci dari tanggapan sebelumnya yang paling relevan, yaitu “Memicu Infeksi”, karena kata kunci yang diminta pada prompt sebelumnya tidak dapat dimasukkan dengan mudah) menjadi masalah. Anak-anak sering menggunakan akun orang tua, atau bahkan membuat akun baru dengan usia palsu saat mendaftar di platform distribusi game seperti Google Play Store atau App Store. Sistem verifikasi Batas Usia di platform ini seringkali lemah dan mudah diakali hanya dengan input tanggal lahir yang direkayasa.
Lingkungan sosial juga berperan penting. Ketika mayoritas teman sebaya memainkan PUBG, seorang anak akan merasakan tekanan sosial kuat untuk ikut bermain agar tidak tertinggal dalam pergaulan. Fenomena ini menciptakan pemakluman kolektif terhadap pelanggaran Batas Usia, di mana bermain game 18+ menjadi norma, bukan pengecualian.
Selain itu, kurangnya penegakan hukum atau regulasi yang ketat terhadap operator platform distribusi juga menjadi celah. Meskipun developer telah menetapkan Batas Usia, tanggung jawab untuk benar-benar memblokir akses anak-anak di bawah umur seringkali tidak maksimal. Perlu ada sanksi yang lebih tegas bagi platform yang gagal menerapkan kontrol Batas Usia yang efektif.
Aspek desain game PUBG yang adiktif dan kompetitif juga berkontribusi. Fitur battle pass, skins, dan sistem peringkat dirancang untuk mempertahankan pemain selama mungkin, terlepas dari usia mereka. Daya tarik visual dan reward instan ini membuat anak-anak sulit menahan godaan untuk terus bermain, mengabaikan segala aturan Batas Usia yang berlaku.
Untuk mengatasi pelanggaran Batas Usia, diperlukan pendekatan multifaset. Edukasi literasi digital harus ditingkatkan di sekolah dan keluarga. Orang tua harus proaktif menggunakan fitur kontrol parental. Sementara itu, regulator dan platform harus bekerja sama untuk menciptakan sistem verifikasi yang lebih canggih dan tidak mudah ditembus oleh anak di bawah umur.