Di Sulawesi Tenggara, di tengah keindahan alamnya, tersimpan kekayaan kuliner yang tak biasa. Salah satunya adalah Kasuami, sebuah yang terbuat dari ubi kayu yang difermentasi. Kasuami bukan hanya sekadar hidangan, tetapi cerminan dari kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam secara maksimal untuk ketahanan pangan.
Proses pembuatan cukup panjang dan membutuhkan kesabaran. Ubi kayu diparut, kemudian diperas hingga airnya habis. Sisa parutan ubi kayu ini dibiarkan difermentasi selama beberapa hari. Proses fermentasi inilah yang memberikan rasa asam khas pada Kasuami.
Setelah difermentasi, adonan ubi kayu dikukus dalam cetakan khusus yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Hasilnya adalah sebuah yang padat dan berwarna putih, siap disajikan. Bentuknya yang unik seperti kerucut atau tumpeng kecil menjadikannya menarik.
Kasuami sering disajikan dengan ikan bakar, ikan kuah kuning, atau sayur tumis. Rasa asamnya berpadu sempurna dengan lauk yang kaya rasa. Kombinasi ini tidak hanya lezat, tetapi juga menyediakan nutrisi yang seimbang, mencerminkan pola makan sehat masyarakat setempat.
Sebagai makanan pokok, Kasuami memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulawesi Tenggara. Ia adalah alternatif karbohidrat selain nasi, terutama di daerah yang sulit mendapatkan beras. Ini adalah bukti bahwa pangan lokal dapat menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Meskipun Kasuami adalah hidangan tradisional, ia menghadapi tantangan di era modern. Banyak generasi muda yang lebih memilih nasi. Untuk itu, diperlukan upaya untuk melestarikan dan mempromosikan makanan pokok ini agar tidak hilang ditelan zaman.
Salah satu cara untuk melestarikannya adalah dengan mengemas Kasuami secara modern dan memperkenalkannya ke pasar yang lebih luas. Melalui festival kuliner atau promosi di media sosial, kita bisa menarik minat orang untuk mencicipi keunikan rasa dan sejarah dari hidangan ini.
Pada akhirnya, Kasuami adalah lebih dari sekadar makanan. Ia adalah warisan budaya yang kaya akan nilai dan kearifan. Dengan melestarikannya, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghormati leluhur yang telah menemukan cara cerdas untuk bertahan hidup.