Persoalan banjir yang tak kunjung usai di Kota Medan kembali memicu kemarahan publik setelah hujan deras baru-baru ini merendam wilayah protokol. Fenomena Bobroknya Drainase Medan menjadi sorotan tajam karena anggaran miliaran rupiah yang digelontorkan setiap tahun seolah tidak memberikan dampak nyata bagi kenyamanan warga. Masyarakat mempertanyakan efektivitas pembangunan parit dan gorong-gorong yang justru sering terlihat mangkrak atau tidak terhubung secara sistematis satu sama lain. Alih-alih mengalirkan air ke sungai, saluran air yang ada justru tersumbat oleh sedimentasi dan tumpukan sampah yang tidak terurus secara berkala oleh dinas terkait.
Kegagalan proyek infrastruktur air ini diduga kuat karena perencanaan yang tidak berbasis pada data hidrologi yang akurat di lapangan. Kondisi Bobroknya Drainase Medan diperparah dengan banyaknya pengerjaan fisik yang terkesan asal-asalan dan hanya mengejar target penyerapan anggaran di akhir tahun. Akibatnya, banyak lantai parit yang elevasinya tidak tepat, sehingga air justru menggenang dan menjadi sarang nyamuk daripada mengalir dengan lancar. Warga di kawasan Medan Baru dan Medan Selayang seringkali menjadi korban utama dari buruknya kualitas pengerjaan proyek yang seharusnya menjadi solusi bagi permasalahan tahunan kota ini.
Selain faktor teknis, kurangnya pengawasan terhadap kontraktor pelaksana menjadi celah besar yang memperburuk situasi. Narasi tentang Bobroknya Drainase Medan sering kali berkaitan dengan dugaan praktik korupsi atau pengurangan kualitas material yang digunakan dalam konstruksi saluran air bawah tanah. Tanpa adanya audit transparansi yang ketat, proyek-proyek ini hanya akan menjadi lubang pemborosan uang negara tanpa memberikan solusi permanen. Masyarakat kini menuntut akuntabilitas dari pemerintah kota agar setiap rupiah yang dikeluarkan dapat dipertanggungjawabkan melalui hasil kerja yang bisa dinikmati langsung manfaatnya oleh seluruh warga Medan.
Dampak dari kegagalan sistem pengairan ini juga merembet pada rusaknya aspal jalan raya yang terus-menerus terendam air setiap kali hujan turun. Fenomena Bobroknya Drainase Medan menciptakan lingkaran setan, di mana jalan yang baru diperbaiki akan kembali hancur karena air tidak tersalurkan dengan benar, sehingga merusak struktur pondasi jalan. Hal ini mengakibatkan biaya pemeliharaan infrastruktur kota menjadi sangat membengkak dan tidak efisien sama sekali. Diperlukan keberanian dari pimpinan daerah untuk merombak total sistem manajemen proyek pengairan agar tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada fungsionalitas jangka panjang.