Sensasi terbakar di lidah setelah menyantap sambal atau lada sering kali menimbulkan Kecanduan bagi banyak orang, namun sedikit yang menyadari adanya bahaya efek dopamin yang tersembunyi di balik kenikmatan tersebut. Secara biologis, zat kapsaisin yang terkandung dalam cabai mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak, yang kemudian direspon dengan pelepasan hormon endorfin dan dopamin untuk meredakan rasa tidak nyaman tersebut. Hal inilah yang menyebabkan munculnya perasaan senang atau bahkan euforia sesaat setelah rasa pedas memuncak, yang jika dilakukan secara berlebihan dapat menciptakan siklus ketergantungan perilaku pada makanan tertentu.
Meskipun dopamin memberikan perasaan bahagia, bahaya efek dopamin yang dipicu secara konstan melalui makanan pedas dapat menyebabkan desensitisasi pada reseptor saraf kita. Hal ini berarti seseorang akan membutuhkan tingkat kepedasan yang lebih ekstrim dari waktu ke waktu untuk mendapatkan tingkat kepuasan yang sama. Siklus ini tidak hanya memengaruhi selera makan, tetapi juga dapat memicu stres pada sistem pencernaan secara kronis. Lambung dan usus dipaksa bekerja ekstra keras untuk memproses zat iritan dalam jumlah besar, yang jika tidak dikontrol dapat memicu peradangan dinding lambung hingga masalah pencernaan yang lebih serius.
Dampak psikologis dari bahaya efek dopamin ini juga mempengaruhi bagaimana seseorang meregulasi emosinya melalui makanan ( motional feeding ). Banyak orang yang mencari makanan pedas saat merasa stres atau tertekan sebagai cara cepat untuk mendapatkan “suntikan” dopamin alami. Ketergantungan pada stimulus fisik yang ekstrem untuk mendapatkan ketenangan mental dapat kemampuan seseorang dalam mengenali rasa kenyang dan lapar yang sebenarnya. Akibatnya, konsumsi makanan pedas yang berlebihan sering kali dikonsumsi dengan pola makan yang tidak seimbang, yang dalam jangka panjang merugikan kesehatan metabolisme tubuh.
Selain itu, bahaya efek dopamin dari makanan pedas juga dapat mengganggu kualitas tidur jika dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu istirahat malam. Peningkatan suhu tubuh serta pengaktifan neurotransmitter aktif di otak membuat tubuh tetap dalam kondisi waspada ( alertness ), sehingga proses menuju fase tidur dalam menjadi lebih sulit. Gangguan siklus tidur ini pada pasangannya akan mempengaruhi kestabilan suasana hati keesokan harinya, menciptakan lingkaran setan di mana seseorang kembali mencari makanan pedas untuk meningkatkan energi dan perasaan senangnya yang hilang akibat kurang tidur.